Moslem Brotherhood

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَس بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
[رواه البخاري ومسلم]
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda, tidak beriman seorang muslim, sebelum ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.

Sahabatku, bila membuka lembar kutipan Bung Karno yang memorable yaitu jas merah, lantas memahami hadits dari Anas bin Malik, seakan terjebak dalam mesin waktu yang mengharuskan kita melihat kembali kisah Kaum Muhajirin dan Anshar, senarai kisah persaudaraan yang dinaungi ridha Ilahi.

Kaum Muhajirin adalah umat islam Mekah yang berhijrah atas perintah rasul dengan meninggalkan segala macam yang dipunyai untuk memegang teguh dienullah. Sedangkan Kaum Anshar adalah penduduk yastrib yang menunggu-nunggu kedatangan sang Nabi yang telah dijanjikan Allah, menebar benih kebaikan dan membawa umat manusia ke jalan yang lurus.

Maka teringat saat Nabi Muhammad SAW disambut, dihormati, dielu-elukan dengan syair yang kita kenal yang artinya :

Telah muncul bulan purnama dari Tsaniyatil Wadai’, kami wajib bersyukur selama ada yang menyeru kepada Tuhan Wahai yang diutus kepada kami. Engkau telah membawa sesuatu yang harus kami taati

Kedatangannya memberikan kebahagiaan dan optimisme baru dalam menghadapi kehidupan. Maka teringat pula dengan tauladan Nabi Muhammad SAW saat mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshar, seperti Abdurrahman bin Auf (Kaum Muhajirin) dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ (Kaum Anshar). Persaudaraan yang tidak mengenal perbedaan nasab, warna kulit, asal daerah, bebas dari rasisme. Islam indah, pemersatu universal adalah benih keimanan kepada Allah, kekuatannya melebihi ikatan keturunan. Kekuatan itu, yang menjadikan kaum Anshar dengan senang hati menjadikan diri mereka sebagai penjamin atas kaum muhajirin, segala macam kebutuhan dari makan hingga pendamping hiduppun mereka siapkan untuk kaum muhajirin, saudaranya terkasih.

Sikap suka menolong merupakan ajaran yang harus kita teladani dari sesepuh kita, yaitu Kaum Anshar dan Kaum Muhajirin. Tentunya teladan itu untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tolong menolong dapat membina persatuan dan persaudaraan. Bertemu dan berpisah karena Allah, mencintai juga karena Allah. Hidup menjadi indah dan berkah dengan memberi, peduli dan berbagi kepada sesame makhluk Allah. Allah berfirman dalam surat At Tahrim ayat 4 yang berbunyi :
Maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik ; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.” (At Tahrim : 4). (aaj)